Lakon Mak dan Ayah

04.47 Diposting oleh dzero buletin

FERHAT
*karya telah dimuat di media SEPUTAR INDONESIA

Adalah Bu Baedah yang memberi tugas menulis cerita tentang keluarga, sebab itu Cut Ida resah dibuatnya.Teman-teman ramai bersorak sila menyobek kertas di halaman belakang buku, menulis nama di pojok atas,duduk termenung sambil memikir.

Sebagian juga langsung menulis terilham cepat. Cut Ida pandang Fatimah menulis saksama,ketika Cut Ida tanya apa yang ia tulis.Ia bilang sedang menulis tentang Mak.Maknya penjual kangkung di kota. Juga Cut Ida tanya sama Ramli,ia anak paling nakal di kelas Cut Ida.

Bajunya tak pernah bersih ada saja diperbuat sewaktu jam main-main. Ramli menulis tentang ayahnya penarik becak. Siti lain lagi. Ia menulis tentang Mak dan ayahnya sekaligus. Sungguh mudah hati mereka bercerita. Sesekali bergantian membaca, ada yang terkikik seperti kuntilanak ketika membaca cerita.

Ada yang mengejek sambil berkata, tulisan kamu jelek.Kelas riuh sekali. Bu Baedah diam dan senyum- senyum saja. Tepuk Siti membuat Cut Ida terkejut lalu. Ia tanya, cerita apa yang kamu tulis? Cut Ida diam kala itu. Siti menarik kertas dan melihatnya, ”Cut Ida belum menulis?” Bocah berkepang dua itu menggeleng malu.

Kejap pintas Siti berpindah pergi sila berbisik ke teman-teman lain.Cut Ida dibuat malu olehnya. Cut Ida merasa sulit bercerita.Tak tahu menulis tentang siapa, tentang Mak? Ayah? Dek Bit? Semuanya tak menarik. Cut Ida hanya bisa diam di pojok kelas menunggu bel pulang berdering.Jika siang diberi tugas lalu tak siap,biasanya menjadi PR.

Nyata benar pikirannya, saat bel pulang berbunyi ramai tak bersiap tugas. Bu Baedah menyuruh mereka mengumpul tugas esok pagi. Sesaat lega batin Cut Ida,namun sekejap pula pusing itu datang lagi. Tiba di rumah ia tak bisa memikir sebab Mak dan Ayah kerap ribut.Ada saja dilempar ketika marah.

Kemarin Mak melempar gelas ke dinding. Bunyinya teramat keras hingga berdengung telinga.Dek Bit seperti biasa memeluk Cut Ida kuat.Tubuhnya yang besar tak kuasa Cut Ida menggendong lama. Ia menangis keras lepas itu,mereka berdua lantas hanya meringkuk lama di kamar. Mak dan Ayah masih bertengkar.

Kata Ayah, Mak perempuan lacur. Kata yang tak pernah tahu maknanya oleh Cut Ida.Berulang-ulang Ayah memekik itu, berkali-kali pula Mak kalap. Cut Ida hanya bisa menutup telinga Dek Bit hingga bocah kecil itu tak mampu mendengar. Suara piring pecah menyilang dalam tengkaran Mak Ayah.

Cut Ida dan Dek Bit semakin takut ketika mendengar suara Mak meraung kesakitan, sepertinya Ayah menampar ulang Mak. Saban hari mereka ribut.Kerap Cut Ida malu dengan teman-teman. Mereka sering mengejek Cut Ida jika main di tanah lapang. ”Mak dan Ayah, karue saja!” Berulang- ulang mereka bercakap seperti itu hingga panas telinga ini.

Cut Ida membaringkan Dek Bit di kasur. Kalau sudah seperti ini Dek Bit enggan tidur bersama Mak Ayah. Ia lebih memilih tidur dengan Cut Ida di kamar belakang.Dek Bit masih terlalu kecil,ia belum bisa berjalan.Masih merangkak sambil berceloteh tak jelas. Selepas membaringkan Dek Bit, Cut Ida mengambil buku dan pensil lantas duduk rapi di depan meja belajar.

Ingatan Cut Ida kembali ke tugas Bu Baedah.Menulis tentang keluarga. Namun sepanjang ia duduk, Cut Ida masih galau harus menulis tentang siapa. Cut Ida tak tertarik menceritakan Dek Bit yang masih terlalu dini.Tingkahnya hampir sama dengan yang lainnya. Jika Cut Ida menulis tentang Dek Bit, pasti teman-teman mengira Cut Ida menyontek.

Di kelasnya ada sekitar lima anak yang punya adik baru. Mungkin pula mereka menulis cerita sama. Cut Ida tak suka dibilang menyontek, terlebih jika Mala mengejeknya. Suaranya yang besar bisa terdengar semua anak di sekolah.Untuk itu, Cut Ida memilih enggan menceritakan Dek Bit.

Cut Ida ingin sekali menceritakan Nek Balah.Nenek tua penjual sayur di keudee Bang Bulah.Kulitnya keriput, rambutnya putih semua,jika berjalan harus memegang tongkat.Tapi ia masih kuat. Menarik jika Cut Ida menceritakannya. Tapi apa Bu Baedah mau terima karangan Cut Ida? Sebab Nek Balah bukan neneknya? Cut Ida semakin pusing. Dek Bit sudah terlelap.

Suara tengkaran Mak dan Ayah sesekali terdengar namun tak terlalu keras lagi.Walau seperti itu Cut Ida masih sukar menulis cerita. Apa ia harus menulis tentang amarah Mak dan Ayah saban malam? Piring dan gelas yang pecah? Makian? Marahan? Itu tak menarik baginya.

Cut Ida tak ingin nanti teman-teman menertawai. Mereka tak punya Mak dan Ayah yang selalu bertengkar.Mereka semua pasti menceritakan tentang Mak yang baik hati, selalu mengajar mereka mengaji, membeli makanan, tak pernah keluar rumah malam hari,tak pernah memaki,yang selalu mencium kening anaknya jika ingin pergi.

Begitu juga dengan Ayah mereka yang selalu memberi uang jajan yang banyak, tak pernah menampar Mak, mengantar ke sekolah. Pasti temanteman kelas menceritakan hal-hal seperti itu. Cut Ida tak ingin beda seorang diri. Buku itu masih kosong, belum ada garisan pensil.

Cut Ida masih galau menulis apa. Ingin sekali bercerita bohong tentang Mak dan Ayah, tapi baginya itu sama saja sebab temanteman Cut Ida banyak tahu perkara Mak dan Ayah. Di luar Mak dan Ayah ribut lagi.Cut Ida menutup kedua telinganya berusaha tak mendengar.Diliriknya jam menjelang pukul 23.00 WIB.

Cut Ida ingin semuanya membaik segera.Doa kerap dipinta dalam ujung salat.Ia ingin sekali punya Mak seperti Mak Fatimah yang selalu mengantar Fatimah pulang, ingin punya Ayah seperti Ayah Ramli yang selalu memberi jajan yang banyak.Perasaannya menggebu-gebu menginginkan itu.

Cut Ida tak punya saudara dekat, kedua nenek-kakeknya telah meninggal, ia hanya punya Dek Bit yang tak mampu menampung kesedihannya. Kerap tak kuasa membendung tangis, ia membariskan seluruh keinginannya; ingin melihat Mak dan Ayah tak saling memukul,ingin tak ada lagi makian, tak ingin lagi mendengar piring gelas pecah.

Ingin Dek Bit tidur kembali dengan Mak sebab selama ini Cut Ida kesempitan di atas kasur.Tak mau lagi mendengar tanya tetangga, ”Pakeun Mak ngon Ayah kah,Cut Ida?” Ia ingin semua itu hilang dari hidup dan pergi sejauh mungkin.Hingga tersadar lalu pintas buku Cut Ida telah berbaris sekelumit kisah.

Lepas itu lega batinnya mengetahui tugas Bu Baedah telah selesai. Walau sadar karangannya tak akan sama dengan yang lain. Ia tersenyum kecut ketika hendak menutup buku, namun seraut kemudian tengkaran Mak dan Ayah terdengar semakin hebat.Mak memekik, Ayah berkata-kata keras.

Entah barang apa lagi yang dilempar.Bunyinya sangat gaduh.Suara gesekan dan hentakan kaki saling menyilang dengan gedoran pintu. Sesekali suaranya lenyap sulit ditangkap Cut Ida. Cut Ida semakin risau, perlahan ia menuju pintu dan mengintip lewat celah sempit dari pintu terkuak sengaja.

Mak menangis kuat hingga terisak tubuhnya. Raut Ayah murka. Berulang-ulang mengatai Mak lacur sira berkacak pinggang. Mak berontak berlalu ke kamar dari hadapan Ayah. Gedoran pintu dipukul kuat.Sejenak Cut Ida melirik Dek Bit bersiaga jika ia terbangun. Ketika memastikan Dek Bit masih terlelap Cut Ida kembali menyimak tengkaran Mak Ayah.

Batinnya nelangsa, apa Allah tak mendengar doanya dalam sujud salat? Kali ini dadanya tersentak. Dalam sembab mata Mak keluar dari kamar dengan membawa tas besar. Jaket tebal dierat rapat. Beberapa tas kecil dijinjingnya. ”Mak ke mana?” keluar bocah itu dari kamar. Suaranya bernada parau menahan tangis.

Mak memeluk Cut Ida erat.Tubuh mereka berdua berguncang hebat, ”Mak pergi sebentar saja, Cut Ida dengan Ayah ya?Mak sayang...” ”Istri tak tau di untung! Mau pergi ke mana kamu,ngeh! Mau ke mana?!!” Ayah mengcengkram dagu Mak. Cut Ida mundur beberapa langkah ketakutan. Tangisnya kini membuncah.

”Peu urusan kah!!”sahut Mak keras sambil melepas cengkeraman itu dan berlalu mengambil tas besar.Jalannya tergopoh-gopoh.Lalu membuka pintu dan larut dalam kegelapan. Mereka tak sempat beradu pandang. Mak juga tak mencium kening Cut Ida.Bergegas dikejarnya ke pintu depan, hanya malam menyambut Cut Ida.Mak tak ada lagi di luar sana.

* * * Pagi ini Bu Baedah masuk tepat waktu.Teman-teman kelas Cut Ida telah siap dengan karangannya masingmasing. Mereka bertukar gurau di bangku belakang. Cut Ida diam saja, hanya sembab mata pertanda ia menangis keras semalam. ”Ya, sekarang seperti janji kita kemarin,kumpul tugas mengarang...” ujar Bu Baedah di depan kelas. Bergegas suasana berubah gaduh.

Bunyi meja dan kursi digeser berpadu dengan teriakan teman-teman sekelas. Cut Ida membuka tas dan mengambil secarik kertas berisi ceritanya. Sejenak ia membaca ulang. Dadanya sesak tak karuan, tangisnya ingin pecah ketika membaca karangan itu.

Diyakini keinginannya tak akan terwujud. Mak pergi dan belum pulang hingga pagi ini. Hingga kejap kemudian ia dirasuk penyesalan. Jika tahu seperti ini alangkah baiknya menulis tentang Dek Bit saja. ”Ayo, siapa lagi yang belum kumpul? Ayo, cepat! Cepat!”(*)

Banda Aceh, 2007

FERHAT. Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh.
Antologi cerpen FLP Aceh Bintang di Langit Baiturrahman (2006),
15 cerpen terbaik lomba cerpen Dokarim se-Nanggroe Aceh Darussalam (2006), Antologi cerpen terbaik Aceh Meusyen (2006), dan beberapa puisi di muat di media lokal.


Read More......

Nyak Loet

07.58 Diposting oleh dzero buletin

Oleh : Nuril Annissa

“Kenapa harus merah, Mak?”
Mak Beid menggaruk-garuk kepala. Gerahnya udara siang ini membuatnya berkeringat ekstra. Selendang kuning lebar yang menutup kepalanya nampak acak-acakan akibat garukannya. Ditambah lagi pertanyaan si Nyak Loet yang rewel ini. “Ah, tak pernah berhenti bertanya aneuk manyak sidroe nyoe,” pikir Mak Beid.

“Kan kalau merah, hue. Terang. Coba kalau warnanya coklat. Nanti bisa saja orang pikir itu bak geureundong. Ya, kan?” Mak Beid meminta persetujuan anaknya meski ia sendiri tidak yakin jawaban tadi akan memuaskan si bungsu ceriwisnya itu. Benar saja, kening Nyak Loet masih berlipat-lipat. Matanya menatap mata Maknya mencari penjelasan lebih lanjut.

“Tapi kan Mak, warna putih nggak hue. Kok malah ikut-ikutan dipakai?” 

Mata bundarnya kini memandang lepas ke luar jendela. Anak rambut yang menyembul dari kerudung putih mungilnya menari seiring angin yang menerpa wajah ingin tahunya. Ia terus saja memandang ke luar meskipun debu-debu dari tepian jalan terus-menerus menampar wajahnya perih. 
Tiang-tiang di setiap pagar rumah yang mereka lewati dari tadi menghipnotisnya sempurna, terutama selembar kain dua warna yang dipasang di pucuk-pucuknya.
Mak Beid tidak terlalu memperhatikan pertanyaan terakhir anaknya. Ia sibuk membenarkan letak selendangnya.

“Jadi kenapa, Mak? Kenapa warnanya merah dan putih seperti itu?” Nyak Loet mengulangi pertanyaannya, jaga-jaga jika Mak Beid lupa untuk menjawab. Mak kan sering lupa di mana meletakkan bleut tempat menjemur belimbingnya. Apalagi pertanyaanku, pikir Nyak Loet.

“Ah, Nyak, Mak ngantuk. Nanti kalau sudah sampai di Banda, bolehlah tanya lagi.” Mak Beid menumpukan berat badannya ke bahu kiri, sedikit membelakangi Nyak Loet. Matanya dipejam rapat-rapat demi menghindari pertanyaan-pertanyaan Nyak Loet. Pundaknya bergoncang-goncang, mobil angkutan L300 yang mereka tumpangi mulai berjuang mendaki badan Seulawah.

Nyak Loet melenguh pelan. Banda Aceh itu sendiri sudah cukup membuat dirinya penasaran dan kini kain merah-putih itu ikut-ikutan menanamkan kepenasaranan di hatinya. 

Sejauh ingatannya, tahun lalu dan tahun sebelumnya orang-orang di gampong juga memasang kain merah-putih itu dan semuanya di waktu yang sama setiap tahun, yaitu saat pohon jemblang di pekarangan Tengku Him berbuah. Nyak Loet tak pernah merasa terusik dengan kain-kain itu. Ia lebih tertarik untuk jalan-jalan ke Kota Sigli dengan Saprida, Kak Desi dan Bang Hasan yang setiap kali kain merah-putih itu dipasang, pasti libur dari sekolah. 

Tengku Him, ayah Saprida, Kak Desi dan Bang Hasan, juga selalu akan mengantarkan dan membiarkan mereka tertawa-tawa sambil menikmati angin di bak mobil pick-upnya. Biasanya mereka akan ke alun-alun. Di sana Nyak Loet pasti akan membeli Mie Caluek kesenangannya dan menyantapnya di atas batu-batu besar di pinggir pantai dekat alun-alun. Kalau hari itu sebegitu menariknya, untuk apa Nyak Loet memikirkan tentang kain merah-putih?

Nyak Loet melempar pandangnya lagi ke luar jendela. Pemandangan rumah-rumah penduduk yang satu-satu terlihat dari sejak di Padang Tijie tadi mulai tergantikan dengan hijaunya panorama. Sang mentari yang pongah dan tinggi berada tepat di atas ubun-ubun manusia sekarang. 

Di sana-sini tubuh jalan compang-camping, membuat perjalanan tidak mulus sama sekali. Sang supir terdengar mengumpat di sela-sela lantunan musik sendu dan suara tiga orang bapak-bapak yang bernyanyi tentang hal yang tidak dimengerti sama sekali oleh Nyak Loet.

Sekilas, Nyak Loet melihat ke setiap penjuru mobil L300 ini. Penumpang lain terlihat sama mengantuk dan membosankannya dengan Mak, pikirnya. Ia pun melipat tangannya, cemberut. Matanya kembali menggerayangi pemandangan di luar sana yang bergerak cepat bak komidi putar. Pandangannya setengah hampa. Pikirannya mengembara ke gampong. Saprida, Kak Desi dan Bang Hasan pasti sedang makan Mie Caluk di alun-alun kota Sigli.

Ayah juga pasti baru keluar dari ladang Yahwa Adnan dan langsung ke Meunasah untuk seumahyang leuhoo. Dari sana, Ayah akan pulang ke rumah dan membuka tudung saji dan mulai makan siang.
Kembara pikirannya tiba-tiba terhenti, Nyak Loet ingat sesuatu. Mak bersamanya sekarang. Berarti tidak ada yang akan memasak untuk Ayah. Ayah makan apa siang ini? mengapa Ayah tidak ikut serta saja ke Banda? Namun, dilihatnya Mak sudah terlelap.

*** 

“Chit peut reubee ka jinoe, hai Mi.”
Mak Beid menggerutu. Tak urung dikeluarkannya juga empat lembar seribuan dari simpulan kecil–yang berfungsi sebagai subtitusi dompet– di ujung selendang kuningnya.

“Tamah aneuk droen lom nyoe.”

Tampaknya Mak Beid sudah tiba di halte terakhir kemarahannya. Pipinya menggelembung merah jambu, lebih merah dari semburat senja di ujung Permukiman Tungkop itu.

“Dari tadi itu dia duduk di pangkuan saya! Mana labi-labimu penuh lagee aneuk boh peuteek masak! Masih mau minta tambahan ongkos untuk anak saya?” Sengit Mak Beid. Nyak Loet terlihat lunglai menggenggam erat tangan kanan Mak. Perjalanan ini begitu jauh dan melelahkan.

Kernek labi-labi itu pun akhirnya mengalah. Mak Beid dan wajah sangirnya tidak lebih mengerikan dari seringai para penumpang lain yang sudah ikut-ikutan kesal karena perjalanan mereka terhambat. Labi-labi itu pun menghilang ke tikungan menuju Lambaro Angan. 
Mak Beid dan Nyak Loet mulai menapaki jalan aspal yang berlubang di mana-mana, Desa Lamkeunung. Tas besar di tangan Mak Beid sesekali diletakkan di tanah sebelum akhirnya ditenteng lagi. Pelan sekali, karena Nyak Loet pun sudah terlalu lelah untuk berjalan. Pidie – Aceh Besar memang tidak terlalu jauh, tapi Nyak Loet benar-benar tidak terbiasa dengan perjalanan seperti ini.

“Supir L300 tadi benar-benar kejam. Sampoe hatee dia menurunkan kita di Jambotape begitu. Kasihan kau harus berdesak-desakan dalam labi-labi, Nyak,” Mak Beid membelai sayang kepala anaknya. Nyak Loet tidak menjawab, ia hanya ingin beristirahat sekarang.

Langkah-langkahnya masih terseret berat saat matanya kembali tertumbuk pada sebuah pemandangan yang tak asing lagi. Nyak Loet mendadak berhenti. Mak Beid yang memegang tangannya pun terhenti langkahnya.

“Mak, orang yang tinggal di rumah itu pasti orang Padang Tijie. Tuh, ada kain merah putih juga!”

Mak Beid tak mampu menahan senyum. Bungsunya ini memang lugu. Boh hatee terkasih ini tidak tahu rupanya bahwa hari ini merupakan hari kemerdekaan Indonesia.

“Kain merah putih itu namanya bendera, meutuah. Dan orang yang tinggal di rumah itu belum tentu awak gampong kita. Mereka memasangnya karena hari ini tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan.” jelas Mak Beid. Nyak Loet mengernyit namun tak urung melanjutkan langkahnya.
“Kemerdekaan?” Kata itu seolah masih asing baginya. 

“Ya, merdeka,” ternyata belum cukup ‘jelas’ penjelasan tadi. “Merdeka itu artinya kita tidak lagi dijajah, diperintah-perintah oleh orang lain. Kita bebas menentukan apa yang ingin kita lakukan. Paham?” Mak Beid tak tahu bagaimana hendak menjelaskan lagi. Terlalu berbelit-belit nanti malah akan diserang balik dengan pertanyaan yang lebih banyak lagi.

Mulut Nyak Loet membundar menggemaskan. Tak lama kemudian keningnya berkerut lagi.

“Contohnya?”

Sia-sia Mak Beid berusaha meminimalisir kesempatan Nyak Loet bertanya. Ia melengos pelan. Namun demikian, Mak Beid sebenarnya senang anaknya tidak lagi terlihat sakit dan menyedihkan seperti di dalam labi-labi tadi.

“Misalnya, Tengku Him yang punya pohon jemblang. Kalau Tengku Him dijajah oleh orang lain, nanti Tengku Him akan disuruh-suruh membersihkan halamannya sendiri, mengurus pohon jemblangnya, tetapi nanti ketika berbuah, Tengku Him tak akan mendapatkan sedikit pun dari jemblangnya. Tapi karena Tengku Him merdeka, ia bisa makan buah jemblangnya sesuka hatinya. Bisa juga menjualnya, terserah Tengku Him lah.” Mak Beid sebisa mungkin menggunakan hal yang paling familiar dengan bungsunya.

Nyak Loet manggut-manggut. Beberapa ekor anak kambing berlarian di sawah-sawah kosong yang mengitari jalan setapak yang mereka lewati. Dari kejauhan lenguhan panjang lembu-lembu yang sedang merumput melatari.

“Memangnya dulu pohon jemblang Indonesia dijajah sama siapa, Mak?” Nyak Loet kembali bertanya.

Mak Beid tertawa kecil. Peluh yang bertengger di dahinya jatuh ke tanah. 

“Indonesia memang pernah dijajah, tapi bukan pohon jemblangnya. Semua yang ada di negara kita ini waktu itu dijajah oleh orang Belanda. Lautnya, tanahnya, buah-buahannya, rempah-rempahnya, kecuali satu daerah.” Mak Beid melirik Nyak Coet, mengharapkan kepenasaranannya.

“Kecuali satu daerah?”
“Daerah mana, Mak?”“
Nanggroe tanyoe nyoe, meutuah. Aceh.” 
Mak Beid menatap langit. Semburat jingganya sempurna. Lamkeunung memang sedang dipeluk senja.

“Jadi dari dulu Aceh ini sudah merdeka, ya Mak? Makanya kita dari dulu boleh makan buah jemblang Tengku Him, ya Mak?” Nyak Loet nyengir memamerkan ompongnya.

Mak Beid tersenyum geli kali ini. Ia hanya mengangguk membenarkan. Ah, Nyak Loet!

“Kita memang dari dulu sudah merdeka. Lalu kita bergabung dengan Indonesia,” Mak Beid meletakkan tas besarnya sesaat di tanah. “Dan karena kita sudah bersatu dengan Indonesia, kita juga memperingati hari kemerdekaannya. Jadi intinya, kita sudah tidak dijajah lagi. Semua yang kita punya di negara kita ini tidak lagi diambil oleh orang lain. Semua punya kita.”

Nyak Loet seperti merenung. Semua punya kita?

Mak Beid menangkap ketidakmengertian bungsunya. “Maksudnya, misalnya Indonesia punya banyak pohon jemblang, nanti buahnya dibagi-bagikan ke semua rakyatnya, yaitu kita. Jadi tidak diambil oleh orang lain, begitu.”

“Ooo,” ia berhenti sesaat, “Mak, memangnya Indonesia itu seperti apa sih? Tinggi besar seperti Tengku Him?”
Mak Beid terpingkal-pingkal. Untuk beberapa detik beban di tangan kanannya terasa sangat ringan.

“Kita memang harus pindah ke Banda.” Mak Beid tertawa-tawa kecil. Nyak Loet menguncupkan mulut, tidak mengerti.
Mak Beid tiba-tiba menghentikan langkah. Di hadapan mereka berdiri sebuah rumah berpagar sedada Mak Beid. Perlahan tapi pasti Mak Beid membuka gerbang pagar itu. Inilah tujuan akhir perjalanan ini.

Nyak Loet menatap takjub atap genteng merah tua rumah di depannya. Rumahnya jauh lebih besar dan tinggi dibandingkan rumah mereka di gampong. Dindingnya berwarna putih, lantai terasnya berwarna hitam berkilau. Beda sekali dengan ubin di rumah Tengku Him. “Ini rumah kita yang baru ya, Mak?”
Mak Beid menggeleng sembari tersenyum kecut, “Iya.”

*** 

“Jalan di desa ini tidak begitu bagus, ya. Tidak menyangka bahwa yang tinggal di sini malah kebanyakan dosen.” Mak Beid membuka tutur setelah meneguk teh dinginnya sampai habis. Seorang wanita tambun setengah baya berkerudung putih yang duduk di depan Mak Beid tersenyum mengangguk. 

Nyak Loet terus-terusan menatap sang wanita nyaris tak berkedip. Tadi ia sempat menangkap kilau emas dari dalam mulutnya saat menyilakan mereka minum dan bercerita bahwa di daerah ini terdapat banyak orang yang bekerja seperti suaminya.

“Iya, Zubaidah, memang jelek jalannya. Kami sudah beberapa kali melapor ke kantor kecamatan tapi masih belum ada respon apa-apa. Hana peng, alasan mereka.” Sang wanita menjelaskan. Mata Nyak Loet membesar, kilau emas terlihat lagi dari dalam mulut sang wanita.

“Ah, alasan saja itu. Padahal mungkin sudah ‘ditelan’ semua uangnya, makanya tidak ada lagi.” Mak Beid memberikan pendapatnya.

Sang wanita terkekeh, kini Nyak Loet bisa mengobservasi dengan leluasa asal kilau emas tadi. Oh, rupanya giginya terlalu kuning, Nyak Loet berbisik dalam hati.

“Ngomong-ngomong, Ayah si Nyak Loet ini apa kabar? Masih mengurus ladang Abang lon?”

“Alhamdulillah sehat saja, Kak Mah. Ya, dia masih bekerja di situ. Tapi Kak Mah tahu sendiri, hasilnya cuma cukup untuk makan sehari-hari saja. Padahal, si Nyak Loet ini sudah harus sekolah.”

Nyak Loet yang sedari tadi memerhatikan wanita bergigi emas itu tiba-tiba terduduk tegak demi mendengar Ayahnya disebut-sebut. Lebih terkejut ketika namanya disebut dan dikait-kaitkan dengan sekolah. Kak Desi bilang kan di sekolah itu banyak PR!
“Nyanyak nggak mau sekolah. Kata Kak Desi di sekolah banyak PR!” tiba-tiba saja ia sudah menumpahkan kekhawatirannya.

“Memangnya Nyanyak tahu PR itu apa?” Mak Beid menggodanya.
“Hahaha, alahai Nyak Loet meutuah. Cek Hikmah dulu juga tidak mau sekolah. Tapi ketika sudah masuk sekolah, Cek Hikmah malah tidak ingin keluar, lho.”

 Jadi, nama wanita ini Cek Hikmah!
Cek Hikmah pun terkekeh-kekeh lagi demi melihat Nyak Loet yang cengengesan sekarang.

“Baiklah, Beid. Kamarmu di sini ya.” Cek Hikmah menunjuk sebuah kamar di belakang pundaknya. “Untuk hari ini, jangan bekerja apa-apa dulu. Kasihan si Nyak Loet. Mantong hek that hie.” Cek Hikmah tersenyum sembari mengusap kepala Nyak Loet sayang. Yang kepalanya diusap tersenyum malu.

Di kamar mereka yang berisi satu ranjang dan lemari pakaian beserta cerminnya, Nyak Loet tiba-tiba ingat sesuatu, “Mak, kenapa Ayah tidak ikut ke Banda?”

Mak Beid yang sedang mengeluarkan isi tasnya ke dalam lemari tiba-tiba berhenti. Setelah meletakkan sepotong daster ke dalam lemari, Mak Beid duduk di sebelah Nyak Loet di atas ranjang. Sudah saatnya menjelaskan semua, pikir Mak Beid.

“Tuloet lon sayang, masih ingat cerita Mak tentang Kak Phoenna kan?” Mak Beid menyebut kakak Nyak Loet yang sudah meninggal sebelum Nyak Loet lahir. Nyak Loet mengangguk.

“Saat umurnya sebaya denganmu sekarang, kakakmu kerap bermain-main dengan anak-anak gampong. Ah, seandainya saja kakakmu bersekolah, ia pasti tidak akan tertabrak mobil itu.” Mak Beid menghela nafas panjang. Dibelainya kepala berkuncir milik Nyak Loet. “Umurmu sekarang sudah enam tahun. Mulai tahun depan kau sudah harus bersekolah. Mak dan Ayah tidak akan membiarkanmu tidak sekolah seperti kak Phoenna.”

Nyak Loet menatap lantai keramik putih di bawahnya. “Tetapi kenapa harus ke Banda, Mak? Kak Desi saja bisa bersekolah di Kunyet.” Ia mengucapkannya tanpa mengangkat pandangannya dari lantai.

“Karena Mak dan Ayah tidak punya cukup uang, meutuah. Di sini, Mak akan bekerja jadi pembantu. Dengan gaji yang Mak dapatkan, mulai tahun depan Nyanyak akan Mak sekolahkan di sekolah Tungkop. Nanti di sekolah, Nyanyak tanyalah sama Bu Gurunya, kenapa warna bendera yang kita lihat hari ini merah putih. Tanya sejarah tentang Indonesia, tanya apa saja yang Nyanyak ingin tahu. Mak mau Nyak Loet bisa pintar, koen lagee Mak nyang hana jak sikula chit jameun. Ya?”

“Mmm… Maksudnya jadi pembantu itu apa, Mak?” Nyak Loet benar-benar bingung.

Mak Beid terlihat sedikit enggan menjawab. Tetapi Nyak Loet harus mengerti sejelas-jelasnya. “Kita akan membantu-bantu Cek Hikmah membersihkan rumahnya, memasak makanannya, yah, melakukan apa yang disuruhlah nanti.” Mak Beid mengusap sayang kening Nyak Loet yang masih terus berkerut.

  “Mak…” Nyak Loet terlihat ragu-ragu berkata.

“Ya, meutuah. Ada apa?”
“Nanti pokoknya kita melakukan apa yang disuruh Cek Hikmah?”
Mak Beid mengangguk. Pahit kenyataan ini untuk dibicarakan memang.
“Mak…,” Nyak Loet masih ragu-ragu ingin berbicara. “Berarti kita belum merdeka ya?”

Read More......

SONI, HIDUP BELUM BERAKHIR

07.50 Diposting oleh dzero buletin

Hari-hari berlalu, Soni merasa hidupnya kian hampa dan tak punya arti. Apa artinya hidup jika kanker sialan itu terus menerus menggerogoti tubuhnya? Untuk apa hidup jika setiap hari yang terasa hanya sakit, perih dan pedih?

Diremas rambut ikalnya keras. Seolah mencoba menyalurkan setiap rasa marah dan putus asanya. Lalu ia berhenti meremas, dan memandang segumpal bola rambut yang baru saja lepas dari kulit kepalanya. Produk alami hasil kemoterapi, kata kakaknya sambil tersenyum. Mungkin dianggapnya itu lelucon, namun bagi Soni itu adalah ejekan yang sangat mengiris batinnya.

Dilihatnya senja mulai turun. Matahari berwarna kemerahan telah menjelma kehitaman di matanya. Tiap memandang senja, ia akan teringat maut, dan bukannya bayangan romantis seperti saat ia pertama memandang senja bersama dengan pacarnya yang telah meninggalkannya saat ia berjuang melawan kanker. Digigitnya bibirnya berlahan.

“Sony, masuk nak.”

Ia menoleh. Mamanya tersenyum di belakangnya.

“Bentar lagi ma. Sony mau lihat senja.” Lalu tanpa dapat ditahannya, kata-kata itu meluncur begitu saja. “Mungkin untuk terakhir kalinya ya ma.”

Ia merasakan ibunya membeku berlahan. Selanjutnya pintu kasa menutup berlahan dan suara langkah ibunya yang tergopoh-gopoh itu, pastinya sekedar untuk menutupi air mata yang mengalir. Ibunya selalu ingin terlihat tegar di depannya.

Ah, Soni kembali menatap senja. Apa yang disedihkan ibunya? Toh bukan otak ibunya yang digerogoti oleh kanker. Juga bukan ibunya yang harus berjuang keras melawan kemoterapi. Semua bukan ibunya yang merasakan. Ia, Soni Gunawan, kelas tiga SMA, siswa berprestasi yang telah meraih USMU FK UI, ialah yang merasakan semua pedih dan sakit.

Soni merasa sunyi. Sesunyi jalanan depan rumahnya. Para pejalan kaki telah menghilang, demikian juga dengan para pengendara motor dan mobil. Yang tampak hanya anjing, kucing, dan sebangsanya yang lalu lalang dengan mata bercahaya.

Soni terus melamun. Beberapa menit lagi adzan maghrib akan segera berkumandang, tapi ia tidak peduli.

“Son!”

Panggilan itu membuatnya tersentak sesaat. Soni segera melongokkan kepalanya ke belakang, mengira kak Aning, kakaknya yang hobi berteriak memanggilnya. Tapi panggilan kedua dari arah depan segera menyadarkan Soni.

Sosok itu melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Soni menajamkan pandangannya yang mulai kabur.

“Early!” teriaknya gembira. Teman kompaknya semasa SD itu tiba-tiba menjelma di depannya. “Ngapain maghrib-maghrib gini datang bertamu?”

“Hah! Bertamu? Siapa lagi? Aku cuma kebetulan aja lewat sini. Malam ini nginap di rumah tante. Son, aku pulang dulu ya, udah mau gelap ni. Besok kita ngobrol-ngobrol ya. Daag…” early melambai dengan kenesnya. Langsung lari meninggalkan Soni dengan tas ransel berayun-ayun di punggungnya.

Soni masih tenggelam dalam euphoria masa lalu melihat Early. Ah, serasa kemarin mereka masih bermain bersama, saling mencontek peer.., hingga ayah Early meninggal dan keluarganya pindah ke kota lain. Tapi sekarang Early sudah dewasa, rambutnya yang cepak tidak banyak berubah, hanya tubuhnya bertambah tinggi. Dan gaya kemayunya itu… tidak pernah berubah.

“Soni?” suara mamanya yang halus kembali terdengar.”Masuk yuk?”

Soni mengangguk. Dengan senyum simpul di bibirnya, ia bergegas meninggalkan kursi rotannya. Meninggalkan mama yang masih termangu campur gembira dengan perubahan sikapnya.

***

“Hai, kok melamun sih?” Early melambaikan tangannya di muka Soni. Soni berpaling, wajahnya merengut.

“Habis kamu sih, ngapain juga ngajak aku ke tempat beginian? Gak ada fun-nya nih!” Soni melempar pandangan tidak senang ke arah sekelompok anak kecil bertubuh kurus yang sedang berebut mainan. Early memalingkan wajahnya, mengikuti arah pandangan Soni.

Early malah tertawa, “Kok gitu? Bagi aku, ini yang paling fun. Lagian, Rasulullah juga bilang, carilah Allah di antara anak yatim. Nah, kita kan udah dekat dengan anak yatim, maka kita dekat juga dengan Allah. Masa dekat dengan Allah enggak fun?”

Soni terperangah mendengarnya,”Sejak kapan lo pandai ceramah?”

“Yee…gini-gini ike anak mushalla juga. Jahat lo ah!” Early memukul pundak Soni dengan gaya kenesnya sampai Soni mengaduh sesaat. Saat itu Early memanggil seorang anak perempuan, “Dara, sini!”

Anak itu berlari cepat ke arah Early. Tampak sekali anak-anak itu sudah akrab dan kenal baik dengan Early.

“Dara, kenalin ini kak Soni. Kawan kak Early”

Soni mengulurkan tangannya dan anak itu menyalaminya dengan malu-malu. Tanpa sengaja, Soni melihat kedua kaki Dara yang lebam-lebam. Mungkin jatuh. Tubuhnya juga kurus dan kecil sekali.

“Umur Dara berapa sekarang?”

Gadis itu menjawab dengan malu-malu, “Delapan tahun.”

Soni agak terkejut. Gadis kecil ini terlihat nyaris seperti anak lima tahun. Tinggi badannya bahkan tidak sampai sepinggang Early. Padahal Early juga tidak tinggi, hanya seleher Soni.

“Dara kelas berapa di sekolah?”

Dara memandang Early, lalu menggeleng.
“Dara gak sekolah lagi. Kata bunda, Dara bentar lagi mau ke surga.”
Mata Soni berkejap.

“Surga?” ia mengulang. Dara mengangguk, lalu ia memandang Early, tampak bosan ditanya-tanya terus.

“Kak, Dara udah boleh pergi? Mau main sama teman-teman.”

Early mengangguk. Dara langsung menghambur kepada sekelompok teman-temannya. Soni berpaling menatap Early. “Maksudnya apa Ear?”

Early tersenyum, “Itulah ia Son, anak yatim piatu yang paling tegar. Sejak kecil gak punya orang tua lagi. Trus oleh bibinya, ia dititipin ke panti asuhan ini. Lima tahun lalu, Dara divonis mengidap kanker hati. Dan sekarang sudah stadium dua. Ia tahu dan sakitnya sering kambuh. Hebatnya, ia selalu bersikap riang hidupnya seolah tak akan berhenti. Ia hanya berkata dengan polos dan lugunya, tiap kali rasa sakit menyerang; ‘ini artinya Dara akan ke surga bentar lagi ya?’ itu selalu yang akan ia katakan. Aneh ya? Anak sekecil itu sudah belajar banyak tentang harga hidup dalam usianya yang masih sangat muda.”

Soni mengarahkan pandangan matanya yang mulai terasa kabur tersumbat air mata. “Kenapa tidak diobati?”

Early mengangkat bahu.”Kurasa itu pertanyaan yang gak perlu jawaban deh Son. Kita tahu miskinnya pemerintah kita, miskinnya panti asuhan, biaya pengobatan yang mahal, dll. Yang gitu-gitu gak usah diomongin, mumet kepala. Lanjut soal Dara ya, hebatnya lagi, ia masih bisa bercita-cita lho. Tahu gak apa cita-citanya? Jadi dokter! Dan waktu ditanya kenapa sama bunda alias ibu kepala panti, tahu gak jawabannya apa? Gini ‘biar orang-orang yang mau ke surga kayak Dara gak ngerasain rasa sakit dan sedih lagi’. Bayangin, ia pingin jadi dokter yang mempersiapkan pasiennya menghadapi kematian dengan positif! Yah, gak salah juga saja sih…” early terus saja berceloteh tentang Dara. Sedang Soni, dengan matanya yang tersa makin berat menahan beban air mata menatap ke arah Dara dan kelompok teman-temannya. Ah, anak sekecil itu, apa yang dia tahu tentang hidup? Mungkin lebih banyak dari yang ia tahu.

Di tengah celotehan Early, suara riuh anak-anak panti yang tengah bermain, dan gemuruh hatinya sendiri, Sony merasa sangat beruntung. Beruntung, Karena ia telah diberi kehidupan yang bahagia. Dan diberi kesempatan untuk sadar bahwa ia bahagian dan beruntung. Sakit kepalanya mulai datang kembali, tapi Soni tidak menghiraukannya. Ia hanya ingin menumpahkan segenap perasaannya. Biar lega, biar hilang semua benci, semua sakit. Lamat-lamat suara nge-bas Early terdengar,“Eh Son, kok nangis sih? Son? Soni! Aduuh…jangan pingsan disini dunk!”

Read More......

KINTA, Sejuta Inspirasi

06.46 Diposting oleh dzero buletin

Akulah penjagamu
Akulah pelindungmu
Akulah pendampingmu
Disetiap langkah-langkahmu
Kau bawa diriku ke dalam hidupmu
Ke basuh diriku dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu adalah hidupku
Kau sentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna
Sebelas januari bertemu…
Menjalani kisah cinta ini…


Kinta terus mencoret-coret buku tulisnya. Inspirasi tak jua muncul untuk menghasilkan sebuah tulisan yang akan dimuat pada salah satu rubrik di buletin yang dipimpinnya. Belum lagi sms dari manager pelaksana yang mewanti-wantinya untuk segera menyelesaikan tugasnya yang keburu deadline. Dan saking susahnya memunculkan sebuah inspirasi, Kinta memutuskan menulis lirik-lirik 11 Januarinya Gigi yang sedang didengar melalui ponselnya. Sebagai tulisan yang nantinya akan dimuat.
“ Hmmmm, 11 Januari.” Desisnya dan tersenyum simpul. “ 11 Januari,” ulangnya lagi. “ Gila aja, kalo ini yang kukasih ke redaksi. Bisa-bisa menager mencak-mencak. Aku ngga bertanggung jawablah, inilah, itulah, yang akan keluar dari mulutnya sebagai respon terhadap tulisanku. Egp. Emang gue pikirin. Hehe…” Jelas aja Kinta berpikir seperti itu. Toh, tugasnya bukan menulis kembali lirik lagu, tetapi membuat cerpen. Walaupun ia berkedudukan sebagai pimred di buletin tersebut, tapi yang namanya tugas, tetaplah tugas.

Kinta memandang kamar berukuran 3 x 3 meter yang disewanya tiga bulan yang lalu. Menatap setiap sudut. Mencari inspirasi yang mungkin saja tergantung bersama pakaiannya di belakang pintu.
“Cowok banget,” Kinta tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar. “ Kamarku ngga beda dengan kapal pecah,..cape deh.”
Di sudut kanan kamar, ada setumpuk pakaian kotor yang belum sempat dicuci. “ Maklumlah, sibuk nih. Belum lagi dengan tugas kuliah yang menumpuk, acara di organisasi yang ngga pernah usai, dan sekarang deadline tulisan.” Kinta membela diri. Kepada siapa? Nuraninya mungkin, yang udah ngga tahan lagi melihat kesemrautan kamarnya.
Lima gambar tertempel di dinding kamar berwarna biru muda itu. Posternya raja Rock ‘n Roll, Elvis Presley. Gambar anatomi tubuh manusia. Anatomi sistem digestive. Mading yang berisikan foto-foto, bukti pembayaran berbagai jenis belanjaan, dan aneka lomba yang dilaksanakan beberapa bulan ke depan. Poster terakhir, daftar kegiatan Kinta selama seminggu.
Gadis yang sedang kuliah di Fakultas Kedokteran di sebuah universitas negri ini beranjak dari meja belajarnya, mengambil spidol dan menuliskan jadwal kegiatan besok. Kinta terbelalak menatap tanggal di kalender. Besok itu tanggal 19. Jadwal deadline tulisan tanggal 19, dan tanggal 19 itu adalah besok, bukan lusa. So, apa yang harus ditulis dalam waktu sesingkat ini?
“Waduuuuhhhh,…” Kinta meringis dan menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya ngga gatal.
“ Makanya, kalo ada tugas itu dikerjain terus mumpung ada waktu. Jangan ditunda-tunda.” Nasihat mamanya ketika datang ke kost-an Kinta tanpa pemberitahuan sebelumnya dan menyaksikan kamar anak perempuan satu-satunya itu layaknya kapal pecah!!! Kinta tak bisa berkelit. Mau bilang ngga sempat karena jadwal kuliah yang padat, sangat tidak mungkin. Mama telah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Kinta lagi seru-serunya main game Aspalt di laptopnya. Duh…
Kinta kembali menatap jadwalnya yang tertempel di dinding, kali ini fokusnya tidak pada jadwal yang seabrek itu tetapi pada kalimat yang tertulis di bagian atasnya “ Kewajiban yang kita miliki, lebih banyak dari waktu yang tersedia”
“ Kenapa aku terpojok seperti ini?” batinnya. Selama ini Kinta bukannya tidak sadar atas kehadiran kalimat pada poster itu. Namun, kalimat itu sekarang seolah tertawa lebar ke arahnya dan mengejeknya “ Aku bukan sekadar pajangan, Kin. Tapi, kamu harus mendalami dan mengerjakan setiap makna yang kumiliki. Nah lho, sekarang baru kena batunya, kan?”
Sangat menohok dan membuat Kinta gondok.
Kau bawa diriku ke dalam hidupmu kau basuh diriku dengan rasa sayang… ponselnya berdering. Dari Early, teman sekaligus komting angkatannya.
“ Ya, Ear. Ada apa?”
“ Cuma mau bilang besok jam 8 pagi kita kuliah obstruksi usus, Kin.”
Kinta terperanjat. “ Serius kamu? Bukannya besok kita hanya praktikum PK (patologi klinik) jam 2?”
“Jadwal yang sebenarnya emang gitu, tapi dokter Yadi harus ke luar kota besok lusa. Jadi, kalau ngga diganti secepatnya, takut ntar ngga sempat lagi. Lagian minggu depan kita ujian. Udah dulu ya, Kin. Aku mau hubungi yang lain.” Early memutuskan telpon.
“ OMG.” Kinta mengerang. “ Kok bisa semuanya jadi amburadul begini?”
Besok kuliah jam 8 dengan dokter Yadi, itu artinya ia harus menguasai materi yang akan dikuliahkan setidaknya lima puluh persen. Jika tidak, bersiap-siaplah untuk diceramahi di depan kelas. “ Bagaimana kamu mau jadi dokter, kalo anatomi dan fisiologi ini saja tidak tahu. Belum lagi jika organ tersebut patologis.” Dan bla bla bla… dua jam kuliah akan berlipat ganda.
Tapi kapan belajarnya? Deadline tulisan belum selesai karena inspirasi tak mau kompromi. Mau TA (titip absen ) besok? Impossible. Dokter Yadi selalu mengabsent mahasiswa satu per satu. Nah, kalau Kinta tidak ada ketika namanya dipanggil. Urusan akan semakin rumit. Kacau jadinya. Ia akan dipanggil pihak akademis, diinterogasi bak seorang tersangka, mau ngasih alasan apa kalau udah begini?..ah pokoknya ribet.. Lagian, ngga Kinta banget kalo TA. Ya, walau bagaimanapun Kinta, ia tetap berprinsip. Kalau memang ia tak bisa masuk kuliah, biar aja absentnya kosong. No space for TA. Peduli amat dipanggil sama pihak akademis, toh itu memang kesalahannya. Dan syukurnya ia selalu lolos dari pemanggilan itu karena ia memang tidak pernah absent kuliah kecuali beberapa kali dan itu tidak dipermasalahkan dosen yang mengajar apalagi pihak akademis.
“Allah help me…” minggu depan ujian. Bahan setumpuk dan belum satupun dibacanya.
Sosok Early yang sedang tersenyum melintas dibenaknya. Cowok yang sering diejek teman-teman dengan “balon” alias “banci salon” itu membuat Kinta semakin bersalah. Bukan karena perubahan jadwal kuliah yang baru saja disampaikan Early, tapi karena kehidupan cowok yang menjadi teman dekatnya selama kuliah. Hidup yang telah terpola, begitu Kinta menyebutnya. Dan bagi Kinta, itu sangat membosankan.
“Jalani aja hari ini untuk hari ini. Besok untuk besok,” ucapnya pada Early ketika membaca buku temannya itu yang penuh dengan catatan kuliah, jadwal harian, dan target yang ingin dicapai. “ untuk apa ditargetkan sampe segitunya, Lon.” (“Lon” diucapkan seperti pada kata balon)
Kinta juga tak urung mengejek Early dengan “balon” seperti teman-temannya yang lain. Namun, Early tidak pernah ambil pusing. Itu yang membuat Kinta kagum. Early tetap PD dengan apa yang dimilikinya.
Kali ini pikiran Kinta menuju ke kamar Early yang sempat dikunjunginya bersama teman-teman yang lain ketika Early sakit.
Kamar yang bersih dan harum. Sangat nyaman. Isi kamarnya lebih banyak dari kamar Kinta, tapi tersusun rapi. “Seperti kamar cewek,” ucapnya pada Early, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kamarnya.
Early juga tinggal di kost-an dengan ukuran kamar yang lebih kecil dari kamar Kinta. Aktif di organisasi. Tapi masih sempat mengerjakan tugas-tugas lain. Masih sempat belajar. Dan merapikan kamar.
“ Ngga salah, Ear. Kalau kamu diejek banci sama anak-anak. Kelakuanmu tak ubah seperti cewek. Ribet. Disiplin seperti mamaku.” Cibir Kinta ketika mereka sedang makan mie pangsit di kantin kampus.
“Biarin aja. Daripada kamu, Kin. Cewek kelakuannya seperti cowok. Calon dokter, tapi amburadul. Ngga rapi,” balas Early, “Terserahlah, Kin. Aku tetaplah aku, walau bagaimanapun aku.
Mamaku bilang, dalam hidup harus memiliki objektivitas, dan prioritas yang akan dicapai. Dan aku ingin menjalankan hidup ini seperti yang mama bilang. Peduli amat dengan orang. Aku merasa nyaman dengan diriku.” Early menjelaskan panjang lebar ke Kinta dengan gaya gemulainya. Kinta ingin mengelak waktu itu, tapi tidak bisa. Apa yang dikatakan Early adalah benar.
Huh… Kinta terpaku mengingat kata-kata Early. Membayangkan tugas-tugas yang belum dikerjakan. Tulisan yang belum selesai. Jadwal kuliah yang berubah-ubah. Ujian di depan mata. Pakaian yang belum dicuci. Kamar yang berantakan. Dan orang tuanya yang pontang panting mencari nafkah untuk membiayai hidup dan kuliahnya yang jumlahnya tidak sedikit.
God,..
Objektivitas ?!?
Prioritas ?!?
(kamar kost, pukul 22.00)


*Tulisan in telah dimuat di D'Zero Buletin, edisi 3

Read More......

EARLY, DI SUATU SIANG

05.22 Diposting oleh dzero buletin

Tujam (satu jam) adalah nama untuk rubrik cerpen di buletin D'Zero ini:)

Early = awal.
Di suatu pagi, aku melihat kembali ejaan nama di badge nama yang tertempel mesra di bajuku. Aku sudah SMU sekarang! Ini awal dari kehidupan baru. Awal, seperti namaku.
Jadi filosofis ya? Maklum, lagi gembira banget menginjak masa-masa yang kata orang zaman dulu sih, adalah masa terindah dalam hidup. Kan ada tuh lagunya. Gimana ya, rada-rada lupa sih.
Kurapikan sekali lagi rambut, kemeja, dan celana panjang abu-abuku. Abu-abu! Aku kembali tersenyum.
Ups! Jam 7 tepat. Aku harus berangkat sekarang atau berpotensi telat di hari pertama. Kuhampiri sepeda unta merah menyala milik ayah yang sudah kurenovasi di halaman depan. Aku buru-buru menaikinya. Tapi kok ada yang lupa ya? Rasanya sih...
”Early!”
Tuh kan, aku lupa permisi sama mama. Dengan mesra aku menyiumi tangan lembut mama tanpa turun dari sepeda nyentrikku.
”Pergi dulu ya ma! Assalamu’alaikum!”
Tanpa menunggu jawaban mama aku segera melesat. Bagai burung merpati yang dipanggil pasangannya. Ciee... perumpamaan dari mana sih.
Aku bergegas. Ups! Kata mama kan gak boleh terlalu ngebut. Bisa tabrakan. Tapi aku suka ngebut. Gimana ya?
Sesampai di sekolah, aku buru-buru memarkir sepedaku di sembarang tempat, dekat motor-motor mengkilap yang membuatku kagum. Anak SMU kaya-kaya ya? Sedang aku... kapan ya bisa naik motor? Walau punya sekalipun, pasti mama gak ngijinin. Kata mama, aku terlalu lembut untuk naik motor. Duh mama nganggap aku apaan sih? tapi gak papa kok, asal mama senang.
Aku celingukan juga mencari kelas baruku. Kelas 1-1 yang mana sih? Katanya kelas inti, tempat anak-anak pintar. Tapi sekedar nyari papan namanya aja susah banget...
”Aditya!” aku memanggil cowok ganteng dengan dagu belah yang sedang berjalan bersama serombongan cowok-cowok lain. Aku melambaikan tangan dengan gembira padanya. Dia teman baikku waktu SMP dulu. Hanya saja sewaktu kelas 3 dia pindah.
Kangen!
Eh? Aditya malah melengos. Aku terkesima. Ah, kali aja nggak liat, aku mencoba berprasangka baik. Mungkin juga agak lupa ma aku ya?
Atau jangan-jangan... nada-nada negatif mulai bergaung di telingaku.
Gak mungkin. Aku langsung menepisnya. Aditya nggak seperti yang lain. Dia istimewa. Dia kan sahabat sejatiku. Best friend forever.
Kukejar ia dengan tergesa-gesa. Kulihat sosoknya masuk ke sebuah ruangan. Aha! Kelas 1-1 yang kucari. Rupanya Aditya sekelas denganku. Lucky!
Aku mengambil langkah-langkah panjang memasuki kelas. Tuh kan, Aditya duduk di bangku depan. Baru aja aku mau ngambil posisi di sampingnya saat seorang cowok sangar menepuk pundakku.
”Sorry ya. Itu bangku aku.”
Aku menatap Aditya, tapi ia malah menunduk sambil membuka bukunya.
What’s wrong, Adit?
Aku memutuskan mengalah. Tapi bertekad akan konfirmasi ulang tentang sikap anehnya Aditya.
Karena semua bangku penuh aku memutuskan duduk di belakang. Sendiri.
Belum-belum, kerianganku udah memudar separuhnya.
Semangat Early! Hatiku memberi support. Show your best!
Keadaan akan membaik. Pikirku saat itu.
Rupanya, aku harus menggeleng nih. Hmmm...
Ketika perkenalan, aku mendapat sambutan meriah. Biasa, jadi bahan lelucon dan dicemooh. Ini emang udah biasa sih. tapi aku tetap aja sedih. Karena, Aditya juga menertawakan aku.
Kenapa?
Semakin lama aku di sekolah ini, situasinya bukan membaik, malahan semakin memburuk. Sewaktu pelajaran, saat aku mengajukan pertanyaan, saat istirahat, aku cuma dijadikan olok-olokan dan bahan tertawaan.
”Idiih...balon yee.”
”balon?” aku terheran-heran.
”Bancie salon gitu lho. Haha...”
Sebenarnya bukan perkara luar biasa sih. di SMP keadaan juga nggak beda jauh. Hanya saja di SMP ada Aditya yang selalu membelaku. Ia akan menghiburku saat aku menangis, bahkan membiarkanku menangis di pundaknya. Ia juga yang selalu memompa semangatku untuk menerima diriku apa adanya.
Kugigit bibirku perlahan. Mataku hangat melihat Aditya yang duduk di kantin bersama sederetan teman barunya. Ia tertawa-tawa dengan gaya yang begitu macho. Kemana Aditya yang kukenal?
Aditya yang kukenal jelas bukan sosok yang sedang minum teh botol sambil menyuiti cewek yang lewat. Jelas bukan! Aditya yang kukenal adalah cowok alim yang selalu mengajakku shalat berjama’ah di mesjid, yang selalu berada di shaf depan saat shalat Jum’at, dan sangat menghargai perempuan.
Inilah kesuraman di hari pertamaku.
Ketika pulang, aku melihat Aditya duduk di depan sekolah. Aku sengaja melewatinya pelan-pelan. Ingin banget menyapanya, tapi takuut...
Benar aja, ia pura-pura gak liat. Padahal dari jarak seratus meter aja orang biasanya udah perhatiaan sama sepedaku yang seperti sepeda karnaval untuk acara tujuhbelasan ini. Benar rupanya dugaanku. Ia nggak mau kenal aku lagi.
Duuh...makin sedih ni.
Aku menegarkan hati dan terus mengayuh sepedaku tanpa melihat ke belakang.
“BUUK!”
Eh, apaan tuh?
Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Hatiku langsung berhenti berdetak.
ADITYA!
Beberapa orang laki-laki besar memukulinya. Wajah mereka berkerut. Segala macam tinju, tendangan, dan pukulan benda-benda tumpul mendarat ke tubuh Aditya. Aku melihatnya dari jarak yang agak jauh. Gemetaran.
Gimana nih? Apa yang harus kulakukan? Mana lingkungan sekitar terlihat sepi. SMU kami memang letaknya nggak strategis. Agak jauh dari pinggir jalan.
Aku semakin deg-degan. Apa yang bisa kulakukan? Samar-samar kudengar teriakan mereka dan rintihan Aditya!
”Jangan ganggu cewek orang bego!”
”Anak baru songong!”
BUKK
”Ampuuun...”
”Rasain! MAKAN NIH!”
”Arrgh...”
Aku tidak tahan melihatnya. Aditya, sahabat yang dulu selalu membelaku, kini dihajar seperti itu.
Entah keberanian dari mana, kubalikkan arah sepedaku. Konsentrasi.
Sekarang!
Kukayuh sepedaku sekencang-kencangnya ke arah mereka. Kukerahkan segenap impuls saraf ke kakiku. Menambah kekuatan genjotan hingga maksimal. Aku berteriak sekeras-kerasnya.
”AAAAAA!”
Mereka kaget dan langsung berpencar. Kubelokkan sepedaku sekuat tenaga ke arah cowok yang paling gendut yang sedari tadi menghantam perut Aditya.
“DUAKK!”
Brukk...
Aku terlempar dari sepedaku dan terbanting keras ke jalan raya. Sakit banget! Seluruh sendi-sendiku seperti melonjak dari engselnya. Aku mencoba bangkit. Kulihat gangster penjahat itu telah sadar dari kekagetan mereka dan sekarang mengepungku. Aku sontak gemetar.
”Eh, banci! Sok jadi pahlawan ya!”
”A-ampun bang.”
” Mamaaaaa...” rintihku
Bagaimana ini? Sedang Aditya masih tengkurap tak berdaya. Gigiku gemeletukan keras. Mama! Aku akan mati! Maafin Early ma...aku meracau dalam hati.
”Kita apain nih?”
”Mampusin aja! Banci kayak dia, satu pukulan juga udah KO!”
Aku semakin merinding mendengarnya. Duuh... coba aku gak sok pahlawan tadi. Tapi kalau enggak, gimana nasib Aditya jadinya?
Mereka mengepungku semakin rapat. Aku bergetar, rasanya celanaku sudah basah. Ya Allah, Save me...
SAVE US!
Tiiin..tiiin...
Kejutan! Allah mengabulkan do’aku rupanya. Para gangster penjahat langsung panik dan kabur. Mobil kepsek rupanya!
”Ada apa ini?” kepala sekolah turun dari mobil. Pandangannya langsung terpaku ke Aditya yang berlumuran darah.
”Masya Allah!” kepsek langsung bergetar hebat. Aku masih gemetaran.
”Angkut dia ke mobil saya. Kamu,...tolong bantu!”
Aku patuh. Berdua dengan kepsek aku mengangkut Aditya ke dalam kijang hitam metalik ini. Berat sekali. Tapi tak ada orang lain di sekitar yang dapat dimintai tolong.
Sepanjang perjalanan aku terus berdo’a. Sedang kepala sekolah tampak sangat gugup, berkali-kali kami nyaris mengalami kecelakaan. Ketika mobil yang kami tumpangi sampai di pintu rumah sakit, kepsek tak henti-hentinya mengucap hamdallah.
Paramedis mengangkut Aditya. Kondisinya terlihat parah. Ini kulihat dari banyaknya darah dan lebam di tubunya.
Aditya, jangan mati!
Kutunggui ia semalaman. Semua bagai mimpi. Aku serasa melayang saat pak kepala sekolah meminta nomor teleponku. Juga saat mama datang dan memelukku. Aku mati rasa.
Pagi datang, bagaimana dengan Aditya?
”sudah sadar.” sahut dokter wanita berwajah lilin yang baru keluar dari ruang perawatan Aditya. Aku segera menghambur ke ruangannya tanpa mempedulikan mama dan perawat yang berteriak-teriak melarangku masuk. Aku ingin melihat Aditya!
Lalu disitulah ia. Berbaring lemah dengan infus di tangannya dan perban di membalut tangan dan kakinya. Aku mendekatinya. Rasa canggung masih terasa. Ia menoleh perlahan.
Menatapnya, aku mati rasa. Masihkah ia Aditya yang kukenal?
”Early...” pelan namaku terluncur dari mulutnya.
”...awal banget ya?”
Ini humor kami untukku yang selalu terlambat di masa SMP. Aku menahan air mata.
”Pahlawan ya?” ia tersenyum kecil. Senyum konyol Aditya-ku. Di matanya ada rasa bersalah dan permintaan maaf yang sudah kukenal sekian tahun.
Aku tidak dapat menahan air mata. Sahabatku tidak jadi hilang!
Terima kasih ya Allah... terima kasih untuk inspirasi keberanian siang itu...:)

Read More......