Sepasang Suami-Istri Pemilik Warung Nasi

23.52 Diposting oleh dzero buletin

Oleh: Alimuddin
Harusnya, sudah tiba waktunya untuk menambah sepuluh atau lima belas kursi lagi di warung mereka. Sayang para pembeli, kebanyakan terpaksa harus mengantri tempat duduk. Apalagi jelang siang yang memang ramai-ramaiya.

“Apa? Menambah kursi? Berapa uang lagi yang harus kita keluarkan?” Tukik Jeha setajam elang yang menggondol mangsa.

“Tapi dengan itu, kita juga akan mendapatkan uang lebih baik lagi,”


Sepasang suami-istri memang pernah bermufakat untuk membeli tambahan kursi.

”Kamu sudah gila ya, Bram? Mendapatkan uang?!” Bola mata Jeha akan loncat dari sarung mata.

”Yang ada uang kita malah keluar! Bukannya masuk! Dari mana sih terbesit ide sinting itu?”

Mulut Bram terkikik sembari bergumam kecerdasan sang istri. Sementara Jeha menghirup lega.

”Biar begini saja. Toh para pelanggan kita tidak keberatan,”
Pembicaraan itu tutup buku.

***

Hari itu sekitaran jam tiga seorang lelaki berdasi corak coklat mampir ke warung sepasang suami-istri itu. Jeha dan Bram yang tengah mencincang sayuran di belakang, tergesa ke depan.

Setelah meletakkan pesanan sang lelaki itu, Jeha kembali ke belakang menuntas pekerjaan. Sementara Bram mengobrol ala kadar dengan pria itu.

”Kerja di mana, Dik?” Braham mencoba basa-basi. Dari kulit muka, Bram tahu jikalau sosok di depannya itu jauh lebih muda dari dirinya.

”Di kantor pajak pak!” sahut lelaki itu yang sepertinya lahap sekali mengunyah dengan berlauk ikan bakar.

Air liur Bram berguncang-guncang. Sudah lama ia idam ikan bakar. Tapi istrinya selalu memelototkan mata api ke arahnya. Namun betul juga laku istrinya bila dipikir berat, jika ia turuti nafsu, pasti tak butuh waktu lama warung nasi mereka harus gulung tikar.

”Pasti banyak uang, ya?” sambung Bram di sela senyum simpul.

”Ah biasa saja lah, Pak. Paling cukup untuk sehari-hari saja,” jawab lelaki muda dengan mulut penuh.

Dua lelaki itu terlibat obrolan ala kadar sampai lelaki itu mencuci tangannya bersih.

Mata Bram melotot begitu melihat masih tersisa seper empat ikan di piring sang lelaki di depannya. Bila tidak dikuasai malu, tentu saja akan dilumat lekas ikan sisa itu.

Lelaki itu mengeluarkan suara kekeyangan halu-lalang. Tangan kanannya tampak sibuk meraba-raba saku celananya.

”Bapak merokok?”

Rupanya sang lelaki muda sedang mencari bungkusan rokok..

Bram menggeleng.

”Haha... Bagus Pak... Saya suka orang seperti Bapak. Orang yang sangat melindungi kesehatan... Saya sudah tahu sih kalau rokok itu merusak kesehatan. Tapi mau gimana lagi ya? Sudah kecanduan Pak!”

Ia mengakhiri omongan panjang dengan sebuah cekakakan.

Bram yang sedari tadi sibuk geleng-geleng kepala dengan mata sekilas-sekilas mengintip ke ikan bakar sisa bakar seper empat itu.

”Bukan gitu dik...Biar hemat, hihi....” Ujar Bram ganti cekikikan meski malu-malu.

Cekikikan lelaki itu muda padam laksana lilin yang diguyur angin.

”Berarti Bapak mau merokok dong!” tapi tak lama ketakjuban si lelaku muda sirna.

”Gimana ya? Habisnya, sudah lama tidak merokok,”

”Kalau sebungkus...” lelaki muda sengaja memotong omongannya sembari mengangkart bungkus rokok setinggi hidungnya. Di hadapannya seolah sedang duduk makhluk unik dari era purba kala.

”Ya,” Sela Bram. Jam-jam begini warung memang jatah sepi. Jadi bebas bagi lelaki itu untuk santai-santai sejenak. Istrinya pun tidk cerewet melihatnya mengobrol saja.

”Saya berikan untuk Bapak,” bertabuh-tabuh dada Bram mendengar itu.

”Bapak mau beli berapa?”

Padahal sang lelaki muda masih belum mengutuhkan kalimat.

”Ya... Saya kirain...” Bram tak dapat menyembunyikan kecewanya. Sedangkan si lelaki muda tergelak geli.

”Bercanda pak! Bapak mau kalau rokok ini saya berikan untuk Bapak?”” tiba-tiba raut lelaki muda berganti serius.

”Mau...” Tingkah Bram seperti seorang cilik yang diberikan permen kesenangan.

”Bapak mau merokok?” sepertinya lelaki muda menyangsikan jawaban Bram barusan. Namun anggukan berkali-kali kepala Bram, membuat sangsi itu hilang.

”E...E...” Namun Bram masih menyimpan ganjil di dalam hati. Terlebih ketika melihat lelaki muda berkemas beranjak.

”Kenapa pak?”

”E... Tapi adik tetp akan membayar uang nasi barusan, kan?' setelah mengucap kalimat itu, ruang dada Bram lega bukan kepalang.

Kali ini meledak tawa si lelaki muda hingga Jeha yang larut di belakang, terburu menolehkan pendang ke depan.

”Iyalah pak... Rokok ini tidak ada hubungannya dengan nasi. Ini hadiah saya buat Bapak! Gratis! Tis-tis! Meski tidak lagi terkakak-kakak, lelaki muda belum bisa menghilangkan kegeliannya.

”O.. Terima kasih kalau begitu. Adik baik sekali. Pasti Tuhan akan merahmati orang baik seperti adik ini,”

Rokok itu berpindah tangan. Bram tak lekang menimang-nimang bungkusan itu. Sejenak ia melupakan sama sekali tentang ikan bakar sisa.

Sepulangnya lelaki baik hati itu, Bram berlari girang ke dapur.

”Hari ini memang hari baikku sayang....” Seru Bram tak reda-reda.

”Kamu gila ya Bram? Menghambur uang untuk beli rokok kamu sebut hari baik? Jatah makan malam aku tahan sebagai gantinya!” kulit muka Jeha keras melihat apa yang ditampakkan Bram.

”Dengar dulu sayang. Aku tidak membeli rokok ini, tapi pria muda yang makan barusan, menghadiahkan rokok ini buatku,”

Wajah keras Jeha mengendur lamat-lamat. Bayang-bayang pundi yang tadi ia bayangkan masuk ke saku kedai sebelah, ternyata tidak kemana.

”Kamu mencari apa, Bram?” tanyanya lalu yang melihat Bram bak gasing putar dari pojokan satu ke pojokan lain.

”Korek. Kamu tahu korek di mana, sayang?” Begitu senangnya Bram sehingga selalu memanggil Jeha dengan sayang.

”Untuk apa?' seru Jeha tajam. Sebanarnya ia sudah tahu untuk apa suaminya itu menanyakan korek. Dan itu tidak boleh terjadi!

”Kamu betul-betul sudah gila Bram!” cepat Jeha bangun dan merebut bungkusan rokok itu dari tangan Bram.

”Kamu ingin membakar rokok ini, kan?'

Bram terpaksa menutup telinganya. Jerit istrinya persis kuntilanak yang melonglong ketika tengah mengamuk.

”Tidak ada yang salah kan, sayang? Toh, rokok dihadiahkan orang kepadaku,” namun Bram merasakan tidak ada yang salah pada dirinya.

”Tidak salah?”

Sungguh, mata Jeha jika dilihat anak-anak, niscaya akan membuat mereka tunggang-langgang.

”Terus setelah roko ini habis kamu bakar, kamu akan membakar apa lagi,hah?”

”Aku...Ee...Aku...”

Bram mulai paham ke mana arah bicara istrinya.

”Kamu mau bilang, 'O sayang, setelah rokok ini habis, ya sudah. Aku tak akan menghabiskan uang kita untuk membeli rokok,'. Begitu, kan?”

”Bukan begitu sayang...Aku...”

”Aku tidak percaya Bram! Rokok itu men-candukan!” Tangan Jeha meletakkan kembali rokok itu di dekat sayur yang belum habis dicincang.

Bram seolah tersadar bahwa baru saja ia nyaris melakukan kesalahan besar.

”Kerjaku jadi terbengkalai gara-gara rokok sialan!” maki Jeha entah untuk siapa.

”Mau kau apakah rokok itu?” Predeksi Jeha salah. Diam-diam tangan Bram sudah menjawil bungkusan itu.

”Tenang saja sayang. Aku tidak akan pernah membakar rokok ini. Lebih baik kukembalikan saja dari pada terkenang-kenang terus. Besok mungkin laki-laki itu akan ke sini lagi....”

Kalimat Bram belum usai.

”Braaamm...” Bila bisa pingsan, tentu saja Jeha akan memilih pingsan dari pada melihat ketololan suminya.

”Ya,” sedangkan Bram yang tidak tahu-menahu dengan musabab marah sang istri, menoeh bermekar stu senyum.

”Akan kugorok lehermu jika rokok itu sampai kau kembalikan. Kau betul-betul lelaki goblok Bram!

Jeha, perempuan itu dianugrahi kecepatan kilat. Dalam bilang menit, rokok itu sudah dimasukkan ke balik kutangnya.

”Biar saja kujual saja ke kedai sebelah nanti sore. Pasti mereka mau, haha...”

”Tak salah aku menikahimu dulu, haha...”

Sepasang suami istri itu cekikikan serempak. Tapi mendadak saja Bram teringat dengan ikan bakar sisa. Seketika air liur memenuhi rongga mulutnya.

”Betul-betul mujur hariku hari ini sayang... Tidak dapat rokok. Aku dapat ini...” Seru Bram yang sudah di depan iakn bakar itu. Dimakan cepat ikan sisa itu. Dan kembali menyongsong istrinya di belakang.

”Oh begitu ya kalau dapat makan enak?” muka Jeha nanar begitu kunyahan Bram begitu nikmat.

”kamu mau, sayang?”

Tidak menjawab, Jeha dengan tampang rakusnya merebut piring di tangan suaminya.

”Kapan kita bisa makan enak seperti ini ya, sayang?” padahal Bram baru mencicip sedikit ikan bakar itu.

”Nanti lah kalau kita sudah kaya.” jawab Jeha yang tenggelam dengan ikan bakar itu.

”Kapan kita kaya?”

”Makanya kita harus hemat Bram! Hemat!” ***
***

Read More......

MENUJU PUNCAK

07.47 Diposting oleh dzero buletin

Pernahkah ngga kita memperhatikan gimana sebatang pohon itu tumbuh?!? Apakah tidak satu pun dedaunan yang gugur saat pohon itu tumbuh dan kemudian berbuah? Tentu tidak, kan? Yupz,.. Ketika sebatang pohon itu tumbuh, tetap akan ada daun yang berguguran, ranting yang patah, bahkan tunas yang tidak berkembang.

So, maksudnya apa??!!??

Nah, ibarat sebatang pohon, maka seperti itulah kita saat menempuh jalan kemunduran, ketidaksempurnaan. Dan justru karena kesalahan, rasa sakit, kekecewaan, kemunduran, ketidaksempurnaan itulah yang membuat kita menjadi lebih matang (mangga kale yang matang).

Namun, cara kita menyikapi kesalahan, kemunduran, dan ketidaksempurnaan itulah yang menjadikan kita tidak sukses menggapai puncak (prestasi). Kita langsung menyimpulkan bahwa kita tidak bisa. Padahal justru karena kita pernah salah dan pernah kecewa, maka secara alami kita memiliki imunitas (pertahanan) untuk tidak melakukan kesalahan dan menghindari kekecewaan yang pernah terjadi.

Jalan-jalan ke masa lalu, yuk!!!

Tahu ngga, kalau pada zaman dahulu kala itu ada seorang anak berusia enam tahun dikembalikan oleh gurunya beserta surat yang menvonis bahwa ia terlalu bodoh sehingga tidak layak belajar di sekolah. Namun, anak itu sekarang dikenal dengan nama Thomas Alfa Edison, sosok yang orang-orang menyebutnya Sang Jenius. Bahkan menjadi symbol kreatifitas seperti penemuannya: bola lampu
Tahu ngga??? (ngga :p)


Back to masa sekarang….

Kalau saya bertanya, apasih tujuan kamu sekolah? Untuk dapat ijazah agar bisa ngelanjuti ke sekolah yang lebih tinggi? Biar dapat kerja yang bagus, and so on.

Hmm, orang-orang yang kurang sabar meniti proses, ketika kemuidan tujuan akhirnya tidak bisa dicapai, misalnya sudah rajin belajar, jadi sarjana, tapi kok ngga dapat kerja yang bagus? Ia kemudian kecewa dan menganggap bahwa sia-sia membuang waktu untuk sekolah. Nah, bisa jadi ini disebabkan ia tidak bisa mengambil hikmah, pelajaran dari hal-hal yang ia dapatkan selama di bangku sekolah, ia sangat terpusat pada tujuan, sehingga ketika gagal mencapai tujuannya, ia merasa down dan gagal.

So that, kunci biar kita tetap bersemangat walaupun tujuan kita tidak tercapai adalah sabar. Sabar mencapai puncak berarti juga upaya melihat apa saja yang diperoleh selama proses mencapai tujuan.

Misalnya, kita kuliah dengan tujuan untuk memperoleh gelar sarjana, kemudian di tengah jalan kita berhenti karena suatu sebab. Kalau kita terus-terusan memusatkan tujuan biar dapat gelar sarjana, maka kita KALAH. Tetapi, jika kita merasa pada saat kuliah kita memperoleh banyak hal disamping ilmu pengetahuan, misalnya pergaulan dengan teman, hubungan dengan dosen, pengalaman organisasi, de el el, maka kita akan memanfaatkan apa yang kita peroleh itu untuk mencari jalan menuju prestasi yang lain.

Read More......

BEING HERO=HAPPY???

06.31 Diposting oleh dzero buletin

Mr. Incredible, salah seorang tokoh hero yang memiliki kekuatan super—bisa ngancurin tembok, ngangkat mobil, lari secepat kilat, yah, seperti itulah—pernah mengatakan bahwa menjadi pahlawan super adalah menyenangkan sepanjang ‘tidak diamati orang lain sepanjang waktu’.


Memang, dalam hidup ini kita sering kali memandang hebat sosok seorang pahlawan. Tidak saja pahlawan fiktif seperti superman, batman, dan spiderman, namun juga pahlawan yang benar-benar popular yang begitu dekat dengan hidup kita, hanya rasanya jauh dari jangkauan. Sebut saja mereka ketua Osis (buat yang masih sekolah nih) atau ketua BEM (halo para mahasiswa), ataupun teman yang nilainya tinggi, aktivis dan dikagumi adik kelas.

Mereka—sosok-sosok para pahlawan ini—terlihat begitu bersinar. Punya kharisma, popularitas yang membuat mereka nyaris mustahil terlihat makan sendirian di kantin, hingga inner handsome atau beauty yang membuat lawan jenis bertekuk lutut. Mereka terlihat begitu bersinar dan menyilaukan mata. Iri pada mereka? Jelas.

Tidak berhenti begitu saja, hidup mereka terlihat begitu lempang. Nyaris tanpa hambatan. Bagaimana hambatan dapat menyapa para selebritis? Mungkin begitu pikir orang-orang di sekitar mereka, namun mereka salah.

Para pahlawan (hero) biasanya memiliki masalah yang lebih kompleks. Masalah yang sangat tidak menyenangkan hingga mereka merasa tertekan sendiri. Sebut saja Superman. Meski sepopuler apapun ia, kehidupan cintanya tidak sesukses yang dibayangkan. Ia gagal membina rumah tangga yang membahagiakan dengan cewek yang ia sukai, ia selalu melakukan pekerjaan-pekerjaan super sendirian, dan diluar itu semua, ia terlihat sangat kesepian saat terbang di langit kota New York—lagi-lagi sendirian.


Masalah lain yang biasanya menimpa para hero alias selebriti alias orang-orang terkenal biasanya adalah prefectsionist. Mereka cenderung ingin melakukan sesuatu dengan sempurna dan terlihat sempurna. Tak heran, sebagian dari mereka sebenarnya sulit menemukan kebahagiaan dalam hidup. Karena yang namanya kesempurnaan, sampai kapan pun tak akan pernah ada, kan?


Bicara soal kesempurnaan dalam perbuatan, mereka cenderung mengabaikan kesehatan dan kebaikan diri mereka sendiri ketika mulai menggarap suatu proyek. Mereka rela menggadaikan jam-jam tidur demi mengerjakan suatu proyek, yang kemudian mereka hancurkan karena tidak sempurna. Lalu kembali disusun lagi. Demikian seterusnya.


Mengenai penampilan sempurna, ini sebenarnya bukanlah masalah baru. Sebab bulimia, anorexia, obsesive compulsive, dan metroseksualitas bukanlah sebuah ketidak wajaran lagi, bahkan sudah dianggap bagian dari gaya hidup orang populer atau hanya sebuah ketidaknormalan hidup biasa akibat ketidakseimbangan jiwa. Namun tetap saja buruk, diakui atau tidak.


Sisi lain biasanya adalah kesepian. Lihat saja kehidupan para hero yang benar-benar hero di sekitar kita. Semakin populer mereka, semakin kesepian mereka sebenarnya. Memang, secara kasat mata mereka terlihat selalu dikerumuni sejumlah penggemar, namun di dalam hati mereka merasa kosong. Karena yang sebenarnya dibutuhkan oleh tiap manusia ini untuk memenuhi kehausan akan perhatian dalam hidupnya hanyalah Tuhan, keluarga, dan seorang sahabat. Sisanya menjelma menjadi kesesakan.


Menjadi hero tidaklah selalu berarti bahagia. Jadi mengapa harus terburu-buru? Nikmati perjalanan sebagai zero, hingga saat menjadi hero, semua kesulitan dapat dinikmati dengan kesyukuran.


*Tulisan ini telah dimuat di D'Zero Buletin edisi 2

Read More......

NOL, APA BEDANYA???

05.18 Diposting oleh dzero buletin

Seorang turis Amerika menjumpai seorang lelaki India yang sedang enak-enakan duduk berjemur di pantai. Si Amerika langsung menghampiri dan bertanya, “Kenapa kamu bermalas-malasan duduk di sini dan tidak mau memancing ikan?”

Orang India tersebut balik bertanya, “Untuk apa?”

“Dengan memancing ikan”, demikian turis Amerika itu memulai penjelasannya, “Engkau dapat mengumpulkan uang. Uang itu sebagian dapat engkau tabung untuk dibelikan jala; dengan begitu engkau dapat ikan lebih banyak lagi. Engkau kumpulkan lagi untuk dibelikan kapal; kemudian engkau kumpulkan lagi, sehingga bisa engkau dirikan pabrik pengolahan ikan. Engkau bisa usaha sendiri, dan mendapat keuntungan berlimpah. Dari keuntungan itu, engkau bisa berlibur dan berjemur di pinggir pantai…”

“Tuan, bukankah saya sekarang ini sudah berjemur di pinggir pantai?”

Cerita jenaka di atas saya kutip dari Mati Ketawa Cara Rusia, salah satu buku humor terjemahan laris yang diterbitkan oleh Grafiti Pers. Disamping itu, ada juga tulisan kontemplatif dari Chalapati yang mungkin sangat sayang untuk dilewatkan. Cerita mengisahkan tentang pertanyaan seorang hamba kepada penciptanya.

A person asked God, “What surprises you most about mankind?”

And God answered: “That they lose their health to make money and then lose their money to restore their health. That by thinking anxiously about the future, they forget the present, such that they live neither for the present nor the future. That they live as if they will never die, and they die as if they had never lived…”

Mungkin teman-teman sekalian pada bingung dengan dua cerita di atas. Maksudnya apa? Atau apa hubungannya? Baiklah, saya akan mencoba menjelaskan sedikit pandangan saya tentang cerita itu. Yup. Ini layaknya sebuah pemikiran NOL, yang saya terjemahkan dengan sekenanya menjadi “apa bedanya?”.

Apa bedanya kita terus-terusan bekerja keras, dapat banyak uang, tapi kesehatan dinomerduakan. Terus, untuk apa kita terus mengejar hari esok, sedangkan momen yang di depan mata kita biarkan terbengkalai.Jadi semua itu nol, impas, lunas, seimbang, atau secara sembrono boleh disebut, “Apa bedanya?”.

Walaupun demikian, tidak salahnya kita bekerja keras, malah dianjurkan! Kita juga tidak dilarang untuk memasang target di masa depan, bermimpi dan mengejarnya. Namun, semua ada batasnya. Seperti kata Rasulullah, bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seolah-seolah kamu mati esok pagi.

Jangan mau menjadi generasi nol, walaupun sekarang kamu dalam kondisi nol. Karena nol harus dipecahkan menjadi satu. Ketika nol dibagi satu akan menghasilkan angka yang tidak terhingga. Dan saat itulah potensimu akan meledak dan bersiap-siaplah menjadi Hero.

Read More......