Bukan Dari Dunia Dongeng
19.57 Diposting oleh dzero buletin

Pernah baca Bukan di Negeri Dongeng (Asy-Syamil, 2002) karya Helvy Tiana Rosa, Izzatul Jannah, dkk? Buku bergaya chicken soup ini menyajikan cerita-cerita yang bagi sebagian orang adalah mustahil. Aneh, kalau manusia model begitu masih ada di dunia ini. Ajaib, karena karakter seperti itu mungkin hanya pernah mereka jumpai pada dongeng-dongeng lama. Tapi, sekali lagi, ini nyata! Inilah kisah orang-orang yang masih menyisakan ruang bagi Tuhan dan kemanusiaan dalam hatinya. Orang-orang yang berakhlak menawan. Membuat kita terpesona, terpukau dan tergoda.
Kemarin, saya mengobrak-abrik isi laptop saya. Lalu saya temukan file ini. Yah, cerita yang tak jauh beda dengan Bukan di Negeri Dongeng. Akan tetapi, sosoknya pernah begitu dekat dengan saya. Meski itu dulu. Namun, setidaknya saya bangga, saya pernah bejumpa dengan orang seperrti beliau.
Lelaki itu bernama Arif Sarjono. Saya mengenalnya saat masih kuliah dulu. Dia pegawai pajak dan lokasi kuliah saya satu kompleks dengan perkantoran Gedung Keuangan Negara (GKN) Medan. Kami pernah bertemu di Masjid Al-Amanah, GKN saat rehat shalat zuhur. Sebelumnya, saya mengetahui sosok beliau adalah orang yang aktif mengisi berbagai kajian, seminar dan pelatihan di kampus-kampus utama di Medan.
Jujur saja, jalan hidupnya sangatlah menarik bagi saya. Karena memang kami bekerja pada instansi yang satu induk (Depkeu), hanya berbeda ditjen saja. Yang jelas, lembaga tempat kami mengais remah-remah rezeki itu citranya amatlah buruk. Dikenal sebagai instansi yang paling tidak transparan dan akuntabel. Terkadang, ada sebersit keinginan untuk mengikut jejak langkahnya. Ya, demi konsistensi terhadap idealisme, kini ia keluar dari Depkeu. Sama seperti anggota BPK Khairiansyah Salman yang menangkap Mulyana W. Kusumah. Sekarang ia menjadi entrepreneur. Bahkan, sekarang menjadi Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) Wilayah Sumatera Utara. Mudah-mudahan, kisah beliau ini memberikan pencerahan dan inspirasi serta dapat menjadi cermin teladan bagi kita. Saya yakin masih banyak orang baik di negeri ini. Bangkitlah Negeriku! Harapan Itu Masih Ada!
KISAH PEMERIKSA PAJAK MELAWAN KORUPSI
Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan.
Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.
Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.
Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.
Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.
Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bisa memahami.
Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.
Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.
Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti in seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.
Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.
Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnyakalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.
Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunyaanggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.
Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabatdan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, "Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik." Saya katakan, "Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi." Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap.
Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.
Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.
Ia lalu mengatakan, "Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai," katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.
Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi.
Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, "Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian." Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.
Saya mau bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahu a'lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.
Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?
Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, "Kenapa tidak bilang-bilang?" Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.
Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.
Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa.
Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, "Uang setan ya dimakan hantu."
Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.
Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.
Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum'at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum'atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga.
Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN.
Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.
Sumber: (Majalah Tarbawi Edisi 111 Th. 7/Jumadal Ula 1426 H/23 Juni 2005)
(Roby)
Read More......
Our Quotes 6: Love, Love...
04.17 Diposting oleh dzero buletin
"Kita tidak terbelenggu oleh cinta yang tidak kita terima di masa lalu, tetapi oleh cinta yang tidak kita ulurkan di saat sekarang"
— Marianne Williamson
"Apakah cinta
selalu menyediakan airmata?"
— Abdurahman Faiz (Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil)
"Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya" (dalam cerpen Linguae, Linguae, Gramedia, 2007)"
— Seno Gumira Ajidarma
"mencintaimu adalah bahagia & sedih;
bahagia karna memilikimu dalam kalbu;
sedih karena kita sering berpisah"
— WS Rendra
"Siapa yang meninggalkan cakap berlebihan, dianugerahkan kepadanya kebijaksanaan
Siapa yang meninggalkan pandangan berlebihan , dianugerahkan kepadanya kekhusyukan hati
Siapa yang meninggalkan makan berlebihan, dianugerahkan kepadanya kelazatan beribadah
Siapa yang meninggalkan ketawa berlebihan, dianugerahkan kepadanya kehebatan (di dalam dirinya)
Siapa yang meninggalkan gurauan, dianugerahkan kepadanya keinsafan (budi bahasanya)
Siapa yang meniggalkan cinta kepada dunia, dianugerahkan kepadanya rasa cinta kepada akhirat
Siapa yang meninggalkan kesibukan mencari aib orang lain, dianugerahi kepadanya keselamatan memperbaiki aib dirinya sendiri
Siapa yang meninggalkan perbuatan menyelidik keadaan Allah SWT, dianugerahi kepadanya keselamatan dari iktikad orang munafik."
— Saidina Umar Al-Khattab
Read More......
Our Quotes 5: "Love"
04.13 Diposting oleh dzero buletin
"Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah."
— Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu)
"Sebab setelah hujan selalu ada seseorang yang datang sebagai pelangi, dan memelukmu. "
— Abdurahman Faiz (Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil)
"Aku ragu ada dan tiadaku,
namun cinta mengatakan bahwa; Aku ada..."
— M. Iqbal
"Cinta adalah kekuatan yang tak akan pernah ditundukkan. Kalau kita berusaha mengendalikannya, cinta akan menghancurkan kita. Kalau kita berusaha mengurungnya, cinta akan memperbudak kita. Kalau kita mencoba memahaminya, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan."
— Paulo Coelho
Opera Sang Penggoda
06.46 Diposting oleh dzero buletin
Siang itu lengang. Angin berhembus tenang, tidak kencang. Di satu sudut kota, dua insan berlainan jenis berada dalam satu ruang. Mereka saling melempar pandang. Mata menerawang. Pintu terkunci. Jendela tertutup rapat. Sementara di luar, mentari kian garang memuntahkan teriknya pada orang-orang. Udara kering menawarkan kegerahan bukan kepalang. Wajar, kalau di sana terasa amat sepi. Bahkan simfoni angin berhembus pun tak mampu mengusir keheningan.
“Kemarilah!” sayup-sayup terdengar bisikan lembut seorang perempuan. Asalnya tentu dari kamar sunyi tadi. “Sekarang aku milikmu, sambutlah cintaku, sayang!” lagi-lagi sang wanita merengek manja. Sangat erotis memang. Lelaki mana yang tahan untuk tidak segera membeli, mengecap dan melumat habis cinta tadi, jika inisiatif itu datang dari sang wanita. Apalagi bila ternyata si perempuan berwajah pualam nan melankoli seperti Angelina Jolie, betisnya seindah Cleopatra, mahkotanya hitam mengkilap bak mayang terurai, giginya tersusun rapi laksana berlian pilihan dan dari bibirnya yang merah merekah tercium aroma harum kesturi putih. Ah, betapa indah dunia.
Lelaki itu terkejut. Sungguh ia tak menyangka akan berhadapan dengan situasi ini. Dadanya berdebar. Jantungnya berdegub kencang. Ingin rasanya ia lepaskan hasrat yang membuncah. Namun, apa yang terjadi kemudian? Di luar dugaan, sang lelaki melakukan tindakan yang sangat berbeda dengan apa yang kita prediksikan. Dengan tegas ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Aku tidak akan mengkhianati kepercayaan dan perlakuan baik suamimu.” Olala, ternyata mereka bukan pasutri (pasangan suami istri). Gawatnya lagi, si perempuan telah bersuami. Lantas, ngapain si lelaki mengurung diri berdua-duaan dengan istri orang di dalam kamar? Trus, pake bawa-bawa nama Allah segala lagi!
Ups, tunggu dulu, mereka berdua bukan orang sembarang. Cerita tadi pun bukan rekaan pengarang, melainkan peristiwa sejarah yang nyata-nyata pernah terjadi. Bahkan kisahnya diabadikan dalam kitab suci. Al-Qur’an tak menyebut nama sang perempuan secara eksplisit. Ia cuma disebut Imraatul Aziz. Yap, dialah Zulaikha, istri bangsawan Mesir. Sedang si lelaki adalah sosok mulia Yusuf alaihissalam, sang nabi utusan Tuhan. Sudah sepatutnya ia berlindung pada Allah saat terjebak pada opera terlarang yang didalangi sang penggoda.
Yusuf muda memang memiliki segudang keistimewaan. Tak hanya cerdas untuk me-manage urusan finansial negara, dari gurat wajahnya pun terpancar seberkas cahaya kejujuran. Selain itu, ia juga dianugerahkan rupa yang sangat menawan, tubuh atletis dan tutur kata serta senyuman yang menggetarkan Sosoknya nyaris sempurna.
Wajar saja banyak gadis perawan menaruh hati padanya. Terpukau akan pesona wajahnya yang tampan. Sampai-sampai mereka mengiris jari sendiri saat sedang bekerja. Bahkan, istri orang pun tergila-gila dan bertekuk lutut mengiba cintanya. Zulaikha adalah pemain utama dalam opera ini. Pandangan pertama pada Yusuf membuat darah di sekujur raganya berdesir kencang. Nafasnya tersengal-sengal memburu nafsu. Bulu romanya berdiri memberi arti.
Akhirnya, Zulaikha kalap. Hati kian gelap. Dunia serasa pengap jika si pemuda tak dikecap. Cintanya membabi buta. Sudah babi, buta lagi, kata Salim A. Fillah. Gejolak syahwatnya yang lindap sampai di ubun-ubun. Ia benar-benar hilang kesadaran jiwa! Matanya gulita. Lalu, ia bangkit dan dengan terengah-engah mengejar sang pemuda yang mencoba keluar dari perangkap setan itu.
“Kreeek…” tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Seorang lelaki muncul, hadir menjadi orang ketiga. Seketika mereka semua terkejut. Saling tatap. Tak yakin pada panorama yang disajikan mata. Di sisi lain, angan si perempuan kini tinggal impian. Tanpa rasa berdosa, ia melanjutkan opera cintanya dengan improvisasi dialog. Ia mengaku hendak diperkosa si pemuda. Satu adegan yang tak direncanakan dalam naskah skenario. Akibatnya, Yusuf menjadi tertuduh, disangka melakukan tindakan kriminal. Tragis. Sadis.
Ibarat sinetron, kisah tadi belum berakhir. Ia masih bersambung ke episode berikut dengan latar waktu dan tempat serta tokoh yang berbeda. Ia hanya akan tamat hingga nanti ditiupkannya sangkakala di Yaumil Akhir. Oleh karenanya, tak usah heran kalau hari ini kita masih banyak menemukan wanita-wanita yang memainkan lakon mirip Zulaikha di atas panggung sandiwara dunia ini. Mereka semakin memeriahkan pentas kemungkaran yang menjadi pertanda sudah dekatnya hari perpisahan itu. Bukankah salah satu ciri-ciri akhir zaman adalah dicabutnya rasa malu dari kaum Hawa?
Kita bukan ingin menuduh bahwa wanita terlahir sebagai penggoda. Tidak. Mereka juga bukan dicipta sebagai objek. Bukan. Tapi, Allah menghadirkannya dari tulang rusuk kiri lelaki untuk menjadi subjek, saling melengkapi dalam memikul tugas sejarah. Menjadi abdullah dan khalifah di muka bumi.
Parahnya, mereka sudah tertular penyakit jiwa Zulaikha. Tiada detik yang dibiarkan tersia, kecuali untuk urusan menggoda pria. Segala tipu daya dilancarkan. Kedipan mata yang liar, baju tipis menerawang, jeans ketat yang membentuk lekuk-lekuk menusuk sampai aroma tubuh yang tak karuan (dari deodorant, shampoo, body lotion, make-up dan wewangian).
Binjai, 13 April 2008
Terinspirasi dari surat seorang ikhwan dan keluh kesah orang-orang yang curhat.
Gambar berasal dari; http://www.imageenvision.com/md/stock_photography/blue_handled_magnifying_glass_cartoon_character_talking_to_a_pretty_blond_woman.jpg
Read More......
HIDUP BAHAGIA
06.31 Diposting oleh dzero buletin

Buku Happy People yang ditulis oleh seorang David Niven, Ph. D, merangkai 100 rahasia untuk membuat hidup bahagia., diantaranya :
1. Tanamkan persahabatan
“Nyalakanlah kembali api persahabatan lama. Raih pula kesempatan di tempat kerja dan tempat tinggal untuk membina persahabatan baru. Seseorang perlu menjadi bagian dari orang lain. Kita butuh untuk memperhatikan dan diperhatikan oleh sesame.”
2. Matikan TV
“Televisi adalah tontonan lezat yang mengalihkan perhatian kita dari hal-hal paling penting dalam kehidupan.”
3. Terimalah diri sendiri seperti apa adanya
“Diri Anda tidak diukur dari besar kecilnya rekening tabungan Anda, elit tidaknya lingkungan tempat tinggal Anda, ataupun jenis pekerjaan Anda. Anda, sdebagaimana setiap orang lainnya, adalah perpaduan istimewa yang rumit dan sukar untuk digambarkan. Perpaduan antara berbagai kelebihan dan keterbatasan.”
4. Ingatlah darimana anda berasal
“Pikirkan dan ingatlah dari suku asli mana Anda berasal. Seringkali kita bagaikan tersesat di dunia yang luas dan kompleks. Kita akan merasa nyaman jika dapat mengetahui warisan budaya kita. Hal ini member kita suatu sejarah, suatu rasa keterikatan terhadap tempat, suatu keunikan yang tetap ada, entah apa pun yang terjadi di sekitar kita.”
5. Pikirkan satu subjek saja, saat menjelang tidur
“Cobalah untuk memikirkan apa yang Anda senangi saat berbaring. Jika pikiran-pikiran yang lain mengganggu, bawa pikiran Anda kembali pada satu hal yang Anda senangi itu.”
6. Milikilah harapan yang realistis
“Orang yang mengejar cita-cita yang tinggi ternyata tidak lebih bahagia dai orang yang berusaha mencapai cita-cita yang sederhana. Janganlah membandingkannya dengan orang-orang terkaya atau keluarga paling ideal di dunia. Tetaplah realistis dan berusahalah untuk menjadikan segala sesuatunya lebih baik. Bukannya sempurna.”
7. Usia tidak perlu ditakuti
“Orang-orang berusia lanjut sama bahagianya denghan orang-orang yang lebih muda. Ketika mereka harus menyesuaikan diri terhadap usianya, banyak dari mereka yang menemukan ketenangan batin dalam hidupnya.”
8. Olahraga
“Orang-orang yang melakukan olahraga, baik itu intensif atau sekedar rutin berjalan-jalan, akan merasa lebih sehat, lebih baik, dan lebih menikmati hidup.”
9. Tertawalah
“Jangan habiskan waktu Anda untuk mengevaluasi suatu lelucon dan menanyai diri Anda sendiri, “Apakah ini benar-benar lucu?” atau “Apakah orang lain pikir ini lucu? Bereaksi dan nikmati sajalah!”
10. Sibuk lebih baik daripada bosan
“Carilah sesuatu untuk dikerjakan. Terlalu banyak yang harus dikerjakan jauh lebih baik daripada merasa bosan karena tidak ada yang bisa kita kerjakan.“
11. Belajarlah menggunakan komputer
“Baik mereka yang berusia 8 tahun maupun 98 tahun akan memperoleh pengalaman menakjubkan dari keajaiban dunia dan teknologi dengan ‘memanfaatkan komputer’.”
12. Makanlah buah setiap hari
“Orang yang gemar makan buah merasa senang dengan apa yang mereka makan. Mereka menjadi kurang berminat pada makanan tidak sehat, dan pada akhirnya merasa dirinya lebih baik.”
13. Dapatkan tidur malam yang cukup
“Jangan menghemat waktu tidur Anda. Istirahat malam secara penuh merupakan bahan bakar bagi hari berikutnya. Orang-orang yang memiliki istirahat cukup merasakan pekerjaannya lebih baik dan lebih nyaman saat hari usai.”
14. Miliki pena dan kertas siap pakai
“Orang-orang sering frustasi karena tidak dapat mengingat gagasan bagus yang mereka dapat kemarin malam. Mereka yang selalu memegang catatan kecil akan lebih merasa terkendali dan sedikit kehilangan.”
15. Dengarkan musik
“Musik berkomunikasi dengan kita di berbagai level yang berbeda. Musik favorit juga mampu menghantarkan kita ke tempat favorit kita.” (Era)
Road to "Love": DZero 6
07.46 Diposting oleh dzero buletin

Alhamdulillah...hanya kata ini yang dapat DZero ucapkan.
Setelah sekian lama tidak muncul di hadapan sahabat-sahabat semua, kini kami akan muncul dengan tema "Cinta".
Bersama edisi ini, kami menyambut dua personil baru DZero, yaitu Anugerah Robi di rubrik Opini dan Zahratul Fajri (Era) di rubrik Kreatin. Selamat bergabung dan terus tingkatkan spirit kita untuk memotivasi dalam kebaikan.
Nah, sobat DZero semua...ingat gak tanggal 14 Februari ini hari apa?
Mungkin buat yang udah tahu atau bahkan udah biasa ngerayain pasti ingat itu adalah hari Valentine. Nah, jadi di momen ini DZero bergerak untuk merayakan cinta juga bersama kamu sekalian. Nah lho, cinta yang seperti apa nih? Makanya jangan salah paham dulu. Cinta yang akan kami bicarakan ini luaaas banget. Dan insya Allah akan menggugah sahabat semua untuk menemukan cinta dalam kehidupan.
Akhir kata, cinta bagi kami bukan sekedar hari Valentine. Tapi tiap hari dalam kehidupan adalah hari untuk mencintai dan berbagi kebahagiaan. So, tersenyumlah saat cinta menemukanmu!
Salam Cinta,
DZero Buletin



